Dunia Kampus: Ekspektasi dan Realita


Curhat


Assalaamualaikum wa rahmatullah wabarakatuh

Mas Yusuf yang saya hormati. Sebelum saya mencurahkan isi hati dan meminta nasihat dari sampean, izinkan saya untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu ya. Seperti kata peribahasa: tak kenal maka tak sayang. Namun jangan sampai kita sayang-sayangan.

Saya Abdul, siswa Sekolah Menengah Atas Negeri dari kampung X (saya malu menyebutkan lokasi persisnya). To the point saja ya.

Begini, sebagaimana saya sebutkan di atas bahwa saya adalah siswa SMA kelas XII semester terakhir. Saya ingin melanjutkan studi di tingkat perguruan tinggi. Setiap hari saya bermunajat kepada Allah SWT supaya dilimpahkan ilmu yang bermanfaat sehingga pada pertengahan tahun depan saya bisa lulus dengan nilai yang sangat memuaskan dan dapat diterima di perguruan tinggi negeri idaman saya yang terletak di perbatasan anatara kota Depok dan Jakarta Selatan.

Sehubungan saya sudah terlanjur berharap tembus ke universitas idaman saya tersebut, saya mau tidak mau harus berjuang supaya mimpi itu dapat terwujud. Namun saya masih penasaran bagaimana kehidupan kampus yang sebenarnya? Apakah seperti di acara-acara FTV yang tayang saban hari, atau jauh lebih mengasyikkan? Maklum, saya hanya anak remaja dari pedalaman Indonesia yang tidak memiliki akses internet dan informasi sebagaimana yang diperoleh anak remaja sebaya di perkotaan. Saya tak ingin kecewa, mas. Sampean tahu kan getirnya kecewa?

Sebagai sosok mahasiswa di ibu kota, tentu mas Yusuf paham betul kondisi dunia perkuliahan atau perkampusan yang sebenarnya.

Tolong ya, Mas Yusuf. Saya minta penjelasan sampean dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Jawab

Waalaikum salaam wa rahmatullah wabarakatuh

Senang berkenalan dengan anda, mas Abdul. Bukan sebuah kebetulan 'kan nama anda mirip nama tengah saya? Saya rasa itu tak penting-penting amat untuk kita bahas.

Sebagaimana gejolak batin anda saat ini, saya—dan mungkin jutaan orang lainnya—juga pernah merasakan hal yang sama: giat belajar menjelang kelulusan, berharap tembus ke universitas idaman, dan waswas akan kehidupan kampus yang sama sekali belum pernah kita alami. Sama seperti ketika kita lulus TK, berharap diterima di SD favorit yang tak jauh dari tempat bermain. Rasa penasaran dan dag-dig-dug itu manusiawi kok. Sangat manusiawi. Tentu lebih baik daripada anda mau disebut sebagai primata berekor sembilan.

Mas Abdul,

"What happened to you happened to me", begitu kata Emily Blunt saat berakting sebagai Rita Vrataski di film Edge of Tomorrow.

Supaya memudahkan penyampaian dan demi kemaslahatan umat, saya jabarkan poin per poin sebagai berikut:

1. Dunia kampus tidak semudah yang kita bayangkan

Tidak semua mahasiswa, terutama mereka yang benar-benar baru, mampu beradaptasi dengan lingkungan sosial dan lingkungan belajar di kampus. Mereka akan terlihat sangat polos di awal perjumpaan, tetapi bisa sangat berubah ketika kita telah lama mengenal mereka. Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk pintar, tapi juga cerdas, kritis, percaya diri, dan sopan.

Kalau boleh saya menganalogikan, kehidupan di kampus tidak ubahnya seleksi alam: yang lemah nan pemalas akan tersingkirkan dengan sendirinya; sebaliknya, yang kuat dan rajin belajar niscaya mampu bertahan.

Dunia ini keras, bung. Kalau mau yang lembek-lembek silakan santap kue pancong.


2. Kehidupan kampus tidak sama dengan SMA

Anda tidak bisa leluasa nyelonong masuk-keluar kelas, sekadar untuk ngobrol ngalor ngidul bersama teman-teman dekat anda, atau saling suap-suapan dengan gebetan/pacar/selingkuhan. Kalaupun anda adalah tipe siswa rajin berolahraga dan aktif di ekstrakurikuler, anda tidak bisa seaktif itu di lingkungan kampus, kecuali jika anda memang berminat aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa tertentu.

Cara berpakaian, cara bergaul, dan atmosfernya pun berbeda.

3. Anda harus bertanggung jawab!

Bukan. Jangan salah sangka dulu. Saya tidak sedang menuduh anda menghamili kucing tetangga. Maksud saya jauh lebih mulia dari hal itu. Ketika anda memasuki dunia perkampusan/perkuliahan, tidak ada yang memegang kendali diri kecuali anda sendiri. Wali murid mulai jarang mengawasi, uang bayaran tak kunjung lunas karena masuk ke perut sendiri, dosen yang cuek saat anda jarang mengumpulkan tugas, serta sekelumit persoalan lainnya.

Satu hal yang mesti anda perhatikan: kehadiran anda adalah prioritas. Dosen tidak hanya menilai secara kuantitatif, tapi juga kualitatif. Alangkah lebih baik nilai anda biasa-biasa saja tetapi jarang absen daripada nilai anda sempurna tapi jarang menghadiri setiap mata kuliah.

Namun tentu ada yang lebih baik: nilai anda sempurna sekaligus jarang absen.


4. Kuliah itu ada dalam diri anda

Esensi kuliah bukanlah segudang metode belajar, teori, atau praktek menjejali isi pikiran anda, melainkan cara diri anda mengembangkan diri untuk menyesuaikan serta menguasai pelbagai hal yang hanya ada di lingkungan kampus. Anda bisa memulai dari diri sendiri untuk menjaring komunitas, saling berkenalan dengan mahasiswa/mahasiswi dari kampus lain, mengikuti seminar-seminar edukatif, atau sekadar menjelajahi perpustakaan-perpustakaan lain di luar kampus anda.

Lebih baik anda berdarah-darah pada hari ini daripada anda terlunta-lunta dengan rasa penyesalan pada masa yang akan datang.

"What doesn't kill you makes you keblinger"

Ingatlah peribahasa di atas jika anda mulai merasa lelah dan hampir menyerah dengan keadaan.

Saya kira empat poin di atas sudah cukup menggambarkan realita kehidupan kampus dengan ekspektasi orang pada umumnya. Jika anda masih merasa belum terpuaskan, silakan anda nikmati proses kuliah anda di masa mendatang.

Pesan saya hanya satu: Hindari ekspektasi terlalu tinggi kalau tidak ingin kecewa. Kecewa itu getir. Lebih getir daripada secangkir kopi hitam dicampur buah zaitun dan sebotol balsem.
Anda tertarik untuk mencobanya?

Ilustrasi: Shutterstock

Baca Juga Artikel Pilihan:

Komentar