Tempat Kita Hidup

indonesian flag bendera
(Ilustrasi: Shutterstock)

Di mana kah kita hidup?

Kita hidup di negara yang pemimpinnya lebih suka memidanakan pembuat meme atau tagar daripada menjerat para koruptor.

Kita hidup di negara yang pemimpinnya menjadikan HAM sebagai jargon kampanye, tetapi setelah terpilih malah tidak mengindahkannya.

Kita hidup di negara yang anak-anaknya lebih gemar bermain gawai daripada membaca buku.

Kita hidup di masyarakat yang para orangtuanya sangat permisif terhadap sinetron tak bermutu tetapi represif terhadap kartun.

Kita hidup di masyarakat yang suka sekali berkomentar tetapi jarang sekali bersedia untuk mencari tahu lebih dalam dan mendengar kisah dari sisi lain.

Kita hidup di masyarakat yang sering menyisakan makanan, membenarkannya, dan menganggap orang yang menghabiskan makanannya sendiri sebagai tindakan yang rakus.

Kita hidup di masyarakat yang para perokoknya lebih garang jika disuruh oleh orang lain untuk tidak merokok di tempat umum.

Kita hidup di masyarakat yang kasir swalayannya merasa aneh jika pembeli menolak kantong plastik, seakan ada target penghabisan kresek.

Kita hidup di lingkungan yang lebih suka merendahkan kesuksesan pedagang kecil dan mendewakan karyawan yang berpakaian perlente meski berpenghasilan kecil.

Kita hidup di masyarakat yang suka menggunjing, mengusik urusan pribadi orang lain, sampai lupa kalau mereka juga tak luput dari kesalahan.

Ya, kita itu adalah saya, kalian, dan masyarakat Indonesia lainnya.

Baca Juga Artikel Pilihan:

Komentar