5 Langkah Jitu Menyelamatkan Air Tanah Jakarta

langkah-langkah jitu dan strategis menyelamatkan air tanah jakarta
Sumber foto: Shutterstock
Tahukah kamu bahwa proses pemrosesan air minum beserta botol plastik ukuran 1 liter membutuhkan setidaknya 5 liter air? Tahukah kamu bahwa eksploitasi air tanah dapat menurunkan tingkat permukaan tanah? Tahukah kamu bahwa penurunan permukaan tanah merupakan salah satu pemicu banjir? Tahukah kamu bahwa tidak semua penduduk Jakarta mengetahui fakta-fakta yang saya sebutkan barusan?
Melalui tulisan ini saya tidak bermaksud untuk menakut-nakuti para pembaca. Faktanya, hitung-hitungan seperti yang saya sebutkan di atas hanyalah sebagian kecil dari ribuan fakta di balik penggunaan air.

Kita tak dapat memungkiri bahwa air adalah sumber kehidupan alam, terutama manusia. Berbagai aktivitas kita sehari-hari membutuhkan air, mulai dari mandi, minum, memasak, mencuci piring, berwudu (bagi yang muslim), menyiram tanaman, mencucui pakaian, bahkan tubuh manusia dewasa mengandung lebih dari 55%-75% air. Sulit membayangkan kehidupan kita tanpa eksistensi air.

Namun sangat disayangkan masih sedikit warga Jakarta yang peduli terhadap lingkungan di sekitarnya, termasuk tata kelola air. Tak sedikit dari mereka yang masih menggunakan air tanah sebagai sumber air sehari-hari. Kenyataannya, penggunaan air tanah, baik itu oleh rumahan maupun dalam skala gedung-gedung bertingkat, lebih banyak menimbulkan masalah daripada manfaat. Belum lagi kebiasaan-kebiasaan lain dalam penggunaan air yang menjurus kepada pemborosan.

Berdasarkan hasil riset Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), penurunan permukaan tanah di Jakarta mencapai 18 sentimeter/tahun. Hal ini disebabkan berbagai faktor, antara lain eksploitasi air tanah dan pembangunan rumah serta gedung-gedung bertingkat yang menggunakan beton sebagai bahan material utama. Walhasil, banjir dan bencana ekologi lainnya terus membayangi kehidupan warga ibukota terutama saat musim hujan tiba. Tentu pihak pemerintah tak bisa bekerja sendirian menangani masalah ini. Pemerintah perlu merangkul para pakar hidrologi, pakar tata perkotaan, sejarawan, budayawan, serta warga secara umum sebagai bentuk gotong royong.

Pertanyaannya adalah, sudahkah kita menggunakan air secara bijak sehingga kelestarian dan keseimbangan alam terjaga? Jika iya, kita berada di jalan yang tepat. Jika belum, tidak ada kata terlambat untuk memulai hal baik.

Berikut lima langkah jitu menyelamatkan air tanah Jakarta yang sudah saya lakukan:

1. Mengurangi Penggunaan Pompa Air Tanah

Keluarga saya telah menggunakan air bersih perpipaan sejak lama. Selian kualitas air yang kami dapatkan lebih jernih dan steril, air bersih perpipaan lebih ramah lingkungan karena tidak mengeksploitasi air tanah (terutama tanah dalam). Pompa air tanah di rumah kami memang masih berfungsi dengan baik, tapi jarang digunakan kecuali air langganan kami sedang bermasalah atau pipa rumah sedang diperbaiki.

2. Menggunakan Botol Minum Isi Ulang

aluminium and plastic water bottle
Botol minum isi ulang yang saya punya dan biasa saya bawa saat bepergian.
Sebagaimana telah saya sebutkan di awal tulisan ini, produksi botol plastik beserta air mineral ukuran satu liter membutuhkan ± lima liter air. Angka yang tidak terlalu berlebihan, tapi jika ditelaah dengan cermat tentu ada unsur pemborosan. Saya menyiasatinya dengan biasa membawa botol minuman isi ulang saat ke kampus maupun ke tempat-tempat wisata yang saya kunjungi.

Terlepas dari selera dan hasil pengujian keamanan, saya lebih memilih botol aluminium daripada botol plastik (walaupun saya masih punya koleksi botol isi ulang plastik). Botol atau termos aluminium dapat menjaga kualitas dan suhu air minum.

3. Menggunakan Keran atau Pancuran Secara Bijaksana

Kegiatan sehari-hari yang kita lalui tak bisa terlepas dari keran air, mulai dari mencuci tangan, menggosok gigi, mencuci piring, berwudu, buang hajat, hingga mencuci pakaian. Saya selalu membiasakan menggunakan keran secukupnya, bila perlu saya tampung di gayung supaya lebih irit. Bukan saya pelit, tapi apakah elok jika kita melakukan hal-hal baik seraya melakukan pemborosan air?

Keran yang dibuka terlalu deras menyebabkan banyak air jadi terbuang percuma. Kita perlu membiasakan diri memperkecil aliran air dari keran serta menutupnya dengan rapat ketika usai menggunakannya. Bayangkan jika 30 tetes air per menit dibiarkan terbuang begitu saja, totalnya dapat mencapai 18 hingga 20 liter air per hari. Kalkulasikan lagi dalam hitungan tahun, berapa banyak bak mandi yang dapat terisi penuh dengan tetesan-tetesan air tersebut?

Penghematan ini juga dapat dilakukan oleh pengguna pancuran atau shower, manajemen waktu sangat penting terutama jika pancuran senantiasa menyala. Ada jenis shower radio yang dapat digunakan untuk menghitung dan membatasi durasi penggunaan pancuran. Misalnya kamu jadikan lagu "Uptown Funk" yang berdurasi 4:30 menit sebagai patokan untuk membilas sampo dan sabun.

Pesan saya hanya satu, jangan terbawa suasana karena bisa saja satu album terlewati.

4. Merendam Piring dan Peralatan Memasak

mencuci peralatandapur dan makan dengan direndam
Biasakan merendam piring dan peralatan dapur. (Foto: Shutterstock)
Punya masalah dengan kerak dan lemak membandel di cucian piring dan peralatan memasak lainnya? Sebenarnya solusi ini saya peroleh dari nenek saya. Pesan beliau terbilang sederhana, cukup rendam piring atau peralatan memasak dengan air biasa atau campuran sabun cuci piring, kemudian rendam semalaman. Esok pagi kotoran dan kerak yang menempel sudah terangkat sehingga lebih mudah dibersihkan. Cara ini tentu lebih hemat daripada mencucinya berulang-ulang.

Sedikit tambahan, air sisa rendaman piring dapat digunakan lagi untuk menyiram tanaman jika tanpa dicampur sabun. Sama halnya dengan air cucian beras yang sebaiknya tidak dibuang begitu saja.

5. Mengonsumsi Lebih Banyak Sayuran dan Buah-Buahan

daging dan syur
Konsumsi daging dan sayur secara seimbang dapat menjaga kesehatan tubuh sekaligus kelestarian lingkungan.
(Foto: Shutterstock)
Saya tidak mengajak pembaca untuk menjadi vegetarian karena saya sendiri masih mengonsumsi daging putih, dagin merah, dan produk-produk olahan lain yang bersumber dari hewan. Saya sadar kebiasaan mengonsumsi sayuran dengan porsi yang banyak dibanding daging akan terasa janggal bagi sebagian orang. Mengapa demikian?

Berikut saya jabarkan kebutuhan air untuk menghasilkan beberapa jenis produk hewan:

  1. Sapi: 1.847 galon/pound
  2. Kambing: 1.248 galon/pound
  3. Babi: 718 galon/pound
  4. Ayam: 518 galon/pound
  5. Telur ayam 395 galon/pound
  6. Susu: 122 galon/pound

Bandingkan dengan kebutuhan air untuk menghasilkan produk tumbuhan sebagai berikut:

  1. Asparagus: 258 galon/pound
  2. Jeruk: 67 galon/pound
  3. Terung: 43 galon/pound
  4. Brokoli: 34 galon/pound
  5. Kentang: 34 galon/pound
  6. Tomat: 26 galon/pound

Tertarik dengan makanan dan minuman yang belum saya sebutkan? Silakan simak penelitian Institut Pendidikan Air dari UNESCO tentang panen dan produk hewani.

Keterangan: Perbandingan dari galon/pound ke liter/kg:

satuan galon Amerika Serikat ke liter
satuan pound lbs ke kilogram

Karena daging membutuhkan air dalam jumlah yang banyak untuk setiap proses produksi dan pengolahannya, saya lebih banyak mengonsumsi sayur-mayur serta buah-buahan. Namun untuk memenuhi kebutuhan gizi yang seimbang, saya tetap mengonsumsi daging merah dan putih satu kali dalam sepekan.

Jika semua langkah di atas telah kamu terapkan, ada satu langkah terakhir nan tak kalah pentingnya, yaitu memilih layanan penyedia air bersih. Salah satu perusahaan penyedia produk air perpipaan (bukan air tanah dalam) yang saya rekomendasikan adalah Aetra.


Mengapa Memilih Aetra?

Aetra merupakan perusahaan pengelola air bersih yang berlandaskan atas nilai-nilai sehat dan berwawasan lingkungan. Aetra menghasilkan produk air bersih yang lebih unggul dibandingkan air tanah hasil pengeboran rumahan, antara lain:

  1. Air Aetra aman dikonsumsi (Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 492/Menkes/Per/IV/2010).
  2. Aetra selalu memantau serta menjaga kualitas air yang diproduksi.
  3. Air Aetra lebih sehat karena menggunakan klor atau kaporit dalam takaran yang sewajarnya.
  4. Air Aetra tidak disukai nyamuk Aedes Aegypti penyebab penyakit demam berdarah.
  5. Aetra tidak mengambil air tanah sebagai sumber bahan bakunya.
  6. Aetra merupakan mitra resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan PAM JAYA.

Saya mengajak pembaca untuk menggunakan air secara bijak karena selain bermanfaat untuk diri sendiri, juga bermanfaat untuk orang lain termasuk anak cucu kelak. Jika ada pilihan yang lebih baik dan menguntungkan, mengapa pilih yang lain?

* * *

Saya mengikutsertakan tulisan ini dalam Lomba Blog "Selamatkan Air Tanah Jakarta bersama Aetra".

lomba blog aetra

Baca Juga Artikel Pilihan:

Komentar

  1. langkah langkah di atas memang harus di terapkan untuk menyelamatkan air.. penggunaan air juga mesti dilakukan secara bijak agar tidak boros dalam pemakaiannya,
    yg bikin sy penasaran apa keuntungan nyata (langsung dirasakan) dari memasang produk air perpipaan dari suatu perusahaan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena saat ini produk air bersih perpipaan masih dikelola swasta, jadi sudah seharusnya beralih ke sana meskipun lebih mahal daripada pompa air tanah biasa.

      Hapus
  2. Aku sudah lama berlangganan Aetra. Memang sih kualitas terjaga, tapi harganya semakin mahal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum semua air bersih dikelola oleh pihak pemerintah, masih ada campur tangan swasta.

      Hapus
  3. langkah langkah di atas wajib dilakukan untuk menjaga air,thanks artikel ini sangat bermanfaat gan :)

    BalasHapus
  4. haha.. jakarta udah sulit banget air bersih ...ya gan. thanks udah berbagi ilmu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih tepatnya mahal gan, makanya masih banyak yang pakai pompa air rumahan. Tapi perlahan kita ajak ke arah yang lebih baik.

      Sama-sama gan :sundul

      Hapus
  5. Semoga kita menang yah lombanya :D

    BalasHapus
  6. harus dimulai dari diri sendiri, thanks gan

    BalasHapus
  7. nice gan, keren artikelnya dan mendidik sekali, senang berkunjung ke sini informasinya nambah wawasan dan bermanfaat utk banyak orang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih gan, sering-sering main kesini gan.

      Hapus
  8. Soal makan-memakan daging, saya pernah lihat video Bill Gates saat membahas buku "Should We Eat Meat?".

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya punya e-book nya, cukup sulit dan rumit untuk dipahami oleh orang lain.

      Hapus
  9. mantap gan, save the water for the nexk generations :)

    BalasHapus
  10. coba langsung ngomong ke pak ahok aja

    BalasHapus
  11. pipa air tanah ini sepertinya lebih mahal dari yg biasa.. tapi biasanya produk yg lebih mahal punya lebih banyak keunggulan juga.. nice post gan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang mahal, tapi harga sudah ditekan karena bekerjasama dengan Pemerintah DKI. Sekadar info, stok air Aetra lebih stabil ketimbang Palyja.

      Hapus
  12. Setuju banget gan sama langkah-langkah diatas.kita harus gunakan air secara bijak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentu. Untuk generasi di masa depan yang lebih baik.

      Hapus
  13. manfaat sekali tips dan caranya untuk menyelamatkan air tanah Jakarta .,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung ke mari.

      Hapus

Posting Komentar