Mengenal Penulisan Sepak Bola Bersama Zen Rahmat Sugito

football writing and football writer in Indonesia

Jika Anda penyuka tulisan-tulisan tentang sepak bola, tentu tak asing lagi ketika mendengar nama Zen Rahmat Sugito atau yang biasa disapa Zen RS. Ia dapat dikatakan salah satu penulis Indonesia yang produktif menulis esai mengenai budaya dan sepak bola di berbagai media cetak maupun daring.

Pria yang biasa mengarsipkan tulisannya di kurangpiknik.tumblr.com itu pernah menulis sebuah novel tentang sepak bola (yang sebenarnya tidak berfokus pada topik sepak bola saja) berjudul "Jalan Lain ke Tulehu" yang diluncurkan satu tahun silam oleh penerbit Bentang Pustaka.

Dalam wawancara kali ini, Zen RS menjelaskan penulisan dan penulis sepak bola di Indonesia, klub sepak bola kesukaannya, dan tak lupa ia juga menceritakan kisahnya merintis situs analisis sepak bola bernama PanditFootball.com bersama Andreas Marbun.

BABAK PERTAMA

Apa definisi football writing dan apa yang membedakannya dari penulisan cabang olahraga lainnya?

Football writing secara sederhana berarti praktik penulisan yang temanya tentang apa pun yang terkait sepakbola, bisa aspek taktik, sejarah, ekonomi, politik, budaya, seni, dll. Bedanya ya subjek tulisannya. Ini tentang sepakbola, bukan badminton, tenis atau voli.

Football writing bisa berkembang, dan terlihat menonjol dibanding yang lain, dalam konteks Indonesia terutama, karena sepakbola memang sangat digilai di sini. Sepakbola digilai dari masyarakat kelas bawah yang mungkin tidak bisa baca tulis hingga kalangan intelektual dan penulis.

Lantas apa yang membedakan antara penulis, pengamat, dan komentator sepak bola?

Bedanya jelas: penulis ya menulis. Dalam iklim intelektual dan akademik yang kuat seperti di Eropa atau Amerika, pengamat atau komentator (pundit) sudah pasti menulis. Rata-rata kredensial mereka sebagai pengamat atau komentator ya karena mereka menulis dan dianggap bagus tulisannya.

Di Indonesia, kan, tidak demikian. Beberapa komentator bahkan kita tidak pernah tahu, atau sulit sekali mencari, tulisan-tulisannya. Kalau pun menulis, kita tidak atau jarang sekali membaca pikiran-pikirannya mengenai sepakbola. Kebanyakan adalah jurnalis yang sekadar menulis hard-news yang itu pun bahkan kebanyakan hanya terjemahan saja kalau sudah menyinggung sepakbola internasional. Ya, banyak dari mereka awalnya adalah jurnalis, tapi kemudian setelah menjadi pengamat/komentator beberapa tidak lagi menulis.

Saya kira ini juga terjadi di bidang lain. Pengamat dan komentator politik yang sering kita lihat di televisi berapa sih yang getol menulis? Kapan terakhir anda membaca tulisan orang-orang yang dilabeli pengamat atau komentator politik itu? Kita harus terpaksa mengerahkan ingatan kita untuk bisa menjawab pertanyaan itu.

Padahal kan untuk menjadi pengamat atau komentator harus menguasai subjeknya. Dan untuk mengetahui itu harus riset. Dari mana kita tahu seorang pengamat atau komentator itu melakukan riset? Ya paling gampang kalau mereka menulis. Kalau tidak menulis, ya kita tidak tahu seperti apa risetnya dan hingga level apa mereka terlibat dalam riset itu.

Kapan Anda pertama kali menulis tentang sepak bola?

Waktu SD saya sudah menuliskan sebuah cerpen tentang sepakbola. Pengalaman bertanding dengan kelas yang lebih senior dan kami menang. Lalu seorang penjaga kantor kelurahan, karena kami bermain di lapangan depan kelurahan, memberi kami setandan pisang. Kami mengarak pisang itu ke sungai untuk mandi. Saya tuliskan pengalaman itu. Sepertinya  kalau tidak salah ingat itu terjadi di kelas 3 atau 4 SD.

Apa judul tulisan sepak bola Anda yang pertama kali dimuat di media?

Kalau tulisan sepakbola pertama yang dipublikasikan tulisan tentang Yunani di Piala Eropa 2004 (Di Piala Eropa 2004 itu kan Yunani juara Eropa secara mengejutkan). Saya menulis di rubrik Bola Kultura di koran Jawa Pos. Saya lupa judulnya. Saya kenal baik dengan redakturnya karena bertahun-tahun sebelumnya rutin menulis resensi dan esai di rubrik budaya yang diasuh oleh redaktur yang juga diserahi tugas mengampu rubrik Bola Kultura.

Anda adalah panutan dari banyak penulis (apapun itu genre tulisannya), dan saya merupakan salah satu yang menggemari gaya penulisan Anda. Bagaimana tanggapan Anda ketika banyak penulis yang berkiblat ke Anda?

Wah saya tidak tahu kalau banyak yang berkiblat ke saya. Tidak sedikit orang memang memuji tulisan saya. Itu saya tahu dari komentar langsung mereka, baik dari twitter, kolom komentar di artikel. Tapi yang tidak suka juga kan ada. Jadi saya tidak merasa terlalu gimana gitu. Biasa saja.

Apakah tim sepak bola kesayangan Anda dari dulu hingga saat ini?

Persib Bandung.

Seberapa emosional ketika tim kesayangan Anda kalah?

Terakhir saya ingat saya lari dari tribun atas Siliwangi ke bagian bawah karena kesal dengan wasit yang menurut saya jelek banget. Saat lari dari atas ke bawah, saya melihat ada botol aqua. Saya ambil begitu saja. Lalu saya lemparkan ke lapangan dan mengenai wasit. Aqua itu masih penuh, belum dibuka malah. Jadi lemparan saya bisa jauh dan mengenai wasit yang sedang diprotes pemain Persib di pinggir lapangan. Kesal betul. Ternyata itu aqua milik seorang tentara yang sedang bertugas. Saya langsung diseret ke atas. Saya berdebat dengan dia. Dikelilingi beberapa tentara. Beberapa bobotoh membela saya. Sehingga saya tidak dibawa ke luar stadion. Bisa repot kalau saya dibawa ke luar stadion. Siliwangi kan sekelilingnya kompleks militer. Gak lucu banget kalau dibawa tentara karena urusan lempar aqua. Haha….

BABAK KEDUA

Bisa ceritakan bagaimana awal mula Anda dan beberapa rekan mendirikan Pandit Football?

Panjang ceritanya. Kira-kira di awal 2011, kami (saya dan Andreas Marbun) mendiskusikan tentang membuat situs sepakbola dengan konten yang berbeda, yang isinya bukan berita, tapi lebih dalam dan analitis. Dari awalnya menjadi provider statistik sepakbola, kami kemudian merambah ke ranah media. Detiksport awalnya menjadi klien kami (hingga hari ini). Tapi dulu proyeknya insidental, momen Piala Eropa 2012 saja. Setelah Piala Eropa selesai, kami vakum. Lalu detik ternyata punya rencana membuat kanal khusus sepakbola dengan konten yang lebih dalam dan analitik dengan menggunakan berbapai perspektif analisis. Ini cocok banget. Bersama Andi Sururi, redpel detiksport, kami ikut merancang rubrikasi sub-kanal yang kemudian sekarang bernama About the Game.

Lalu akhir 2013 atau awal 2014, kami memutuskan membuat website sendiri, panditfootball.com. Awalnya itu web portofolio yang hanya memajang portofolio, profil dan klien serta jenis layanan yang kami berikan. Lalu kami berpikir kenapa tidak dibuat website yang berisi konten sepakbola saja? Lalu jadilah panditfootball.com seperti sekarang. Isinya kira-kira bisa dibagi dua: story dan analysis atau cerita dan analisa.

Sejauh ini, bagaimana iklim football writing di Indonesia?

Sangat baik, berkembang pesat dengan mutu yang pelan-pelan juga terus membaik. Penulis baru bermunculan. Tiap hari banyak sekali konten sepakbola non-news. Perkembangannya pesat dan pelan tapi pasti secara kuantitas dan kualitas bisa menyaingi penulisan di bidang musik, sastra, kuliner bahkan travel writing sekali pun. Banyak blog dan website indie yang dikelola dengan semangat football writing. Sosial media dan internet menjadi faktor utama berkembangnya genre football writing ini.

Apa saja amunisi yang diperlukan untuk menjadi football writer? Apakah ada syarat tertentu?

Saya kira syaratnya sama saja dengan menjadi penulis pada umumnya: banyak membaca. Ini mutlak banget. Para penulis yang hebat selalu lebih sering menghabiskan waktu dengan membaca ketimbang menulis.

Dalam konteks football writing, mungkin bisa ditambahkan dengan datang ke stadion. Datang ke stadion itu penting banget untuk mengalami langsung sepakbola. Eropa kan jauh, ya. Jadi datanglah ke stadion-stadion Indonesia. Lihat pertandingan langsung. Melihat taktik melalui TV dan stadion itu juga berbeda loh.

Apakah para football writer di Indonesia sudah cukup mumpuni di bidang penulisan?

Mumpuni ini dalam arti apa, ya? Kita bisa membandingkan dengan tulisan-tulisan sepakbola di luar negeri, misalnya, sebagai acuan. Saya kira kalau membandingkan, tidak terlalu jauh kok. Beberapa post match analysis yang dibuat oleh Pandit atau oleh penulis lain itu kadang atau sering sama baiknya dengan analisis-analisis yang ditulis para penulis luar kok.

Apa saja buku bertema sepak bola yang paling Anda sukai?

Taktik dan culture.

Siapa penulis atau jurnalis sepak bola favorit Anda dari luar negeri dan dalam negeri?

Dulu sih saya menyukai Sindhunata, tapi saya kira sekarang saya juga berkembang dan Romo Sindhu juga rasanya tidak memperlihatkan tulisan-tulisan sebaik dulu. Kalau di luar negeri, saya senang membaca tulisan-tulisan Brian Philips.

Apakah Anda sedang menyusun sebuah buku sepak bola? Jika iya, kira-kira kapan akan diluncurkan?

Ya, sedang menyiapkan buku sepakbola. Isinya esai-esai panjang. Per bab nya rata-rata sekitar 4 ribu kata. Dan rencananya esai-esainya ini belum pernah dipublikasikan sebelumnya. Jadi benar-benar fresh. Tadinya akhir tahun 2015 harusnya sudah rilis, tapi saya tidak yakin melihat kesibukan beberapa bulan ke depan.

Terakhir, apakah Anda yakin lagu "Indonesia Raya" berkumandang di Piala Dunia suatu saat nanti?

Suatu saat itu akan terjadi, setidaknya di Piala Dunia U-17. Hehehe…


WAKTU TAMABAHAN

Maradona/Pele?

Maradona

Brazil/Jerman?

Brazil

Jose Mourinho/Carlo Ancelotti?

Mou

David Moyes/Brendan Rodgers?

Sama-sama buruk.

Steven Gerrard/Paul Scholes?

Scholes

Bung Kusnaeni/Bung Towel?

Bung Kus

Bambang Pamungkas/Kurniawan Dwi Yulianto?

Kurniawan

Evan Dimas/Paulo Sitanggang?

Evan

Tan Malaka/Bung Karno?

Tan Malaka

* * *

Kamu bisa mengikuti akun Twitter Zen RS di @zenrs.

Baca Juga Artikel Pilihan:

Komentar