Review: The Strain Musim Pertama Episode Terakhir

Rasanya sudah tidak asing bagi kita film maupun serial televisi yang mengangkat tema zombie survival, baik itu dari sudut pandang perorangan (I Am Legend, 28 Days Later) maupun kelompok (Resident Evil, World War Z, The Walking Dead). Beberapa film bertemakan sama juga sudah lebih dulu eksis, dengan perbedaan yang tidak terlalu mencolok dari segi bumbu cerita serta drama antar karakter.

Berbeda dengan film zombie survival atau zombie apocalypse pada umumnya, The Strain menawarkan sesuatu yang berbeda, namun juga tidak bisa dibilang baru. Serial televisi yang diangkat dari novel berjudul sama karya Guillermo del Toro dan Chuck Hogan ini memadukan fiksi ilmiah dan hal-hal berbau mistis yang teramu dengan apik dan menghibur.

Jajaran pemain dan kru yang terlibat pun tak kalah kontroversial. Guillermo del Toro, yang dikenal pernah menggarap film-film box office seperti Hellboy dan Pacifi Rim, ditunjuk untuk duduk di kursi sutradara bersama Chuck Hogan. Namun duet tersebut hanya bertahan di episode pertama, dan episode berikutnya digarap oleh sutradara lain. Pemeran karakter-karakter utamanya pun juga dipegang oleh aktor-aktris yang belum punya nama kuat, maka nama Kevin Durand, Corey Stoll, dan David Bradley bisa dibilang punya andil besar untuk membimbing pemeran lainnya.

Alasan utama saya menonton serial The Strain adalah sebagai selingan sembari menunggu The Walking Dead musim kelima yang akan tayang 13 Oktober mendatang. Saya tidak menaruh banyak harapan ketika berniat untuk menontonnya. Selama satu musim penuh saya menikmati serial televisi yang ditayangkan di FX Channel ini, banyak kelebihan dan kekurangan dalam serial ini yang dapat saya nilai.

Episode 13

Saya tidak akan berbicara lebih dalam mengenai awal cerita The Strain bermula, yang saya akan ulas adalah episode terakhir untuk musim pertama yang tayang pada 5 Oktober lalu.


Perjuangan Dr. Ephraim "Eph" Goodweather dan kelompok di bawah pimpinan Setrakian untuk membasmi strigoi (Bahasa Rumania: vampir) terus berlanjut. Tak ada yang mengira penyebaran wabah strigoi terjadi begitu cepat di Kota New York, bahkan hanya dalam hitungan hari.

Keberadaan tempat persembunyian kelompok Setrakian yang berada di bawah tanah di sebuah toko perak terendus oleh The Master. The Master dengan sigap langsung mengirim pasukan strigoinya dipimpin oleh Thomas Eichhorst. Mereka berhasil memorak-porandakan tempat persembunyian tersebut. Tak ada oleh-oleh berharga yang dibawa pulang oleh Eichhorst, kecuali jantung milik Miriam (istri Setrakian) yang dibawa pulang oleh Eldritch Palmer untuk dijadikan koleksi pribadi.

Di tempat lain, Gus masih berada dalam cengkeraman Quinlan dari kelompok The Born. Gus yang diculik secara tiba-tiba mulai gusar akibat tak tahan dengan perlakuan yang diberikan oleh Quinlan. Kehebatan Gus dalam pertarungan jalanan berubah 180 derajat ketika dia berhadapan langsung dengan Quinlan dan 3 vampir legenda yang dikenal sebagai Ancients. Gus 'dipaksa' bergabung dengan The Born untuk membalas kesalahannya yang membiarkan peti kayu milik The Master melewati jembatan, yang membuat dia kehilangan keluarga serta sahabat tersayang.


Adapun Eldritch Palmer, jutawan yang menjadi penyokong dana penghancuran fasilitas kota, kembali sehat dan bugar setelah meminum cairan pemberian The Master sebagai tanda balas jasa. Dia masih tidak abadi seperti yang diharapkan, hanya sehat sebagaimana sebelum dia sakit. Beruntung bagi Palmer, dia adalah bagian terbaik dari episode ini, dimana dia mengadakan pertemuan dengan Menteri kesehatan yang telah mengumumkan secara resmi untuk mengarantina Manhattan.

Sayangnya, tak satu pun bagian dari episode ini yang menwarkan semacam kesimpulan dari tiga cerita utama. Bahkan, bagian akhir dari episode ini menampilkan saat Eph menembak mantan istrinya, Kelly, yang secara tiba-tiba muncul di dekat tempat persembunyian.

Sejak awal, kekuatan utama The Strain adalah kharisma, kekuatan akting, dan misteri-misteri yang belum terpecahkan hingga saat ini. Penonton akan dibuat penasaran, ketakutan, bahkan ngilu ketika para strigoi mengejar mangsanya, atau dibuat kagum ketika para pembasmi strigoi dengan gagah berani berhadapan langsung dengan mereka. Namun, semua sensasi itu kian memudar dari episode ke episode.

Secara keseluruhan, Guillermo del Toro dan Chuck Hogan tidak berhasil mengarahkan The Strain ke jalan yang benar seperti di dalam novel.


Rating: 8 dari 10

Don't miss any updates from me, follow @yusabdul.

Baca Juga Artikel Pilihan:

Komentar